PKM Angkat Resiliensi Seni Debus sebagai Riset Sosial
Mahasiswa mengkaji ketahanan seni budaya Banten sebagai riset sosial humaniora.

SERANG — Kesenian debus, warisan budaya khas Banten, menjadi objek kajian menarik dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) STIE Dwimulya. Mahasiswa mengangkat tema resiliensi seni debus sebagai riset sosial humaniora yang memadukan budaya dan ekonomi.
Riset ini menelaah bagaimana seni tradisional bertahan di tengah arus modernisasi, serta potensi ekonominya sebagai daya tarik budaya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kajian ekonomi dapat menyentuh ranah pelestarian warisan budaya.
Budaya sebagai Sumber Riset
Mengangkat debus sebagai objek riset mencerminkan kepekaan mahasiswa terhadap kekayaan lokal. Seni yang lekat dengan identitas Banten ini menyimpan nilai sosial, budaya, dan ekonomi yang layak dikaji secara ilmiah.
Melalui riset ini, mahasiswa dilatih menerapkan metode ilmiah pada fenomena sosial di sekitarnya. Pembimbingan dosen membantu mengarahkan gagasan agar memenuhi standar kebaruan dan kedalaman analisis.
Riset resiliensi debus menjadi bukti bahwa gagasan berkelas dapat lahir dari kearifan lokal. Bagi STIE Dwimulya, tema ini memperkaya khazanah riset mahasiswa sekaligus menegaskan kepedulian pada pelestarian budaya daerah.